
Pembinaan spiritual menjadi pondasi ketangguhan prajurit udara. Yasinan rutin bukan sekadar tradisi, tapi refleksi pengabdian di ujung utara Indonesia.
Natuna,metroindonesia.co.id – Malam itu, langit Natuna bersih dari awan. Di Masjid Mina, di jantung Pangkalan TNI Angkatan Udara Raden Sadjad (RSA), lantunan ayat suci terdengar syahdu, mengisi ruang-ruang kosong dengan keteduhan. Kamis, 9 Oktober 2025, selepas salat Magrib berjamaah, satu persatu personel Lanud RSA memenuhi saf, membawa mushaf dan kesunyian batin.
Di barisan depan, Komandan Lanud RSA, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, duduk bersila. Di sampingnya, sang istri, Ny. Marni Onesmus Pasaribu, Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 17/D.I. Mereka bergabung dengan kepala dinas, kasatker, anggota skadron, dan para pengurus organisasi istri prajurit. Tak ada protokol kaku. Yang tampak hanyalah khidmat dan kebersamaan.
Satu jam berlalu. Surat Yasin selesai dibaca. Doa pun dipanjatkan, dipimpin Letda Sus Muhamad Jafar Yahya, Kepala Pembinaan Mental dan Ideologi (Kabintalid) Lanud RSA. Di antara ucapannya, terselip harapan-harapan sederhana keselamatan tugas, kekuatan iman, dan keberkahan bagi seluruh keluarga besar Lanud RSA.
“Pembinaan rohani adalah fondasi moral. Tugas kami bukan sekadar menjaga wilayah udara, tapi juga menjaga hati,” ujar Marsekal Onesmus usai acara.
Di ujung utara Indonesia, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, prajurit Lanud RSA hidup dalam dinamika yang berbeda. Natuna, dengan kontur geografis strategis dan sensitif, menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia di kawasan Laut Cina Selatan. Tapi dalam tekanan tugas, kadang tak terlihat mata publik, mereka tak lupa menjaga keseimbangan jiwa.
Yasinan rutin bukan sekadar simbol religiositas. Ia menjadi ruang refleksi, penyejuk batin dari kerasnya dunia militer. “Kami tidak ingin personel hanya kuat secara fisik dan taktik, tapi juga kuat secara spiritual,” kata Letda Jafar.
Tradisi ini telah menjadi agenda tetap. Digelar setiap Kamis malam, diikuti oleh prajurit dan keluarga. Kegiatan ini, menurut Ny. Marni Onesmus, juga mempererat silaturahmi antar anggota, menyatukan keluarga militer dalam ikatan nilai yang lebih dalam.
Masjid Mina, tempat acara berlangsung, bukan sekadar tempat ibadah. Di masjid kebanggaan Lanud RSA ini, banyak keputusan penting dimatangkan dalam keheningan doa. Di ruang itu pula, para personel muda diajarkan bahwa tugas mulia menjaga langit negeri ini juga butuh keikhlasan bersumber dari hati yang bersih.
Di tengah tantangan geopolitik dan dinamika kawasan, pembinaan mental seperti ini menjadi tameng kedua setelah alutsista. Seolah memberi pesan bahwa dalam setiap luncuran pesawat tempur, ada doa ibu, ada keteguhan iman, dan ada kekuatan batin dilatih setiap Kamis malam.
Dengan ritus kecil seperti ini, Lanud RSA menunjukkan bahwa kekuatan militer bukan hanya perkara otot dan senjata. Di Natuna, kekuatan itu juga datang dari doa yang lirih di antara ayat-ayat suci.(Roy)




