Menyongsong Batam 2026, Catatan dari Ruang Paripurna

(Suasana pengesahan APBD-P)

 

Batam,metroindonesia.co.id – Ruang sidang utama DPRD Kota Batam tampak lebih ramai dari biasanya pada Senin, 8 September 2025. Kursi-kursi terisi penuh, mulai dari jajaran pimpinan DPRD, Wali Kota Batam Amsakar Achmad, perwakilan Forkopimda, tokoh Lembaga Adat Melayu (LAM), akademisi, hingga insan pers. Semua mata tertuju pada podium utama hari itu agenda tunggal yang dibahas adalah penyampaian Ranperda Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.

Ketua DPRD Batam, Haji Muhammad Kamaluddin, membuka sidang dengan nada tegas namun bersahabat. Ia mengingatkan bahwa proses ini adalah kelanjutan dari disahkannya KUA dan PPAS pada 27 Agustus lalu. “Hari ini kita mendengarkan langsung penyampaian nota keuangan dari Wali Kota,” ucapnya, memberi isyarat bahwa momen penting baru saja dimulai.

Amsakar Achmad, dengan batik rapi dan senyum hangat, naik ke podium. Ia memulai pidatonya dengan rasa syukur. Lalu, perlahan tapi pasti, ia memaparkan arah pembangunan Batam tahun depan. Nada suaranya sesekali menekankan hal-hal yang dianggap prioritas: pendidikan, infrastruktur, kesejahteraan, hingga reformasi birokrasi.

“Peningkatan kualitas SDM adalah fondasi kita. Beasiswa, ruang kelas baru, hingga pelatihan tenaga kerja akan kita maksimalkan,” tegasnya. Tak berhenti di sana, ia juga menyinggung pembangunan gedung kantor bersama, penanganan banjir, hingga fasilitas kesehatan lebih layak.

Di balik angka-angka kadang terdengar kering, tersimpan visi besar. Pendapatan daerah 2026 ditargetkan Rp4,62 triliun. Belanja dirancang Rp4,73 triliun lebih besar, namun ditopang pembiayaan dari sisa perhitungan anggaran sebelumnya. Dari total belanja, lebih dari Rp3,6 triliun diarahkan untuk belanja operasi, termasuk kebutuhan dasar masyarakat.

Bagi UMKM, ada kabar menggembirakan subsidi bunga nol persen. Bagi lansia, ada jaminan bantuan sosial. Bahkan, pekerja rentan pun disiapkan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. “Ini tentang pemerataan kesejahteraan,” kata Amsakar, suaranya mantap.

Ruang paripurna sesekali riuh dengan bisikan, catatan yang diketik cepat oleh jurnalis, atau kepala yang mengangguk setuju. Semua pihak menyadari, angka-angka itu bukan sekadar tabel, melainkan janji dan harapan bagi lebih dari satu juta warga Batam.

Usai pidato, Ranperda RAPBD beserta nota keuangan resmi diserahkan kepada pimpinan DPRD. Proses simbolis itu seakan menandai perjalanan panjang berikutnya: pembahasan di tingkat fraksi, pandangan umum, hingga akhirnya ketok palu pengesahan.

Kamaluddin, sebelum menutup sidang, mengingatkan bahwa pekerjaan besar masih menanti. “Fraksi-fraksi silakan menyiapkan pandangannya. Rapat paripurna berikut akan segera dijadwalkan,” katanya.

Di luar gedung, suasana sore Batam tetap riuh oleh aktivitas kota. Namun di dalam, gema sidang paripurna hari itu meninggalkan catatan penting: Batam 2026 sedang dipersiapkan dengan arah yang jelas. Bukan sekadar rencana, tetapi janji untuk menata kota industri dan perdagangan ini agar lebih modern, sejahtera, dan berdaya saing.(Arian)

Bagikan Berita :

Recommended For You

About the Author: metro indonesia

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!