
Anambas, metroindonesia.co.id – Sorak-sorai ribuan penonton menggema di Lapangan Sepak Bola Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, Sabtu (4/7/2026). Di bawah langit sore yang cerah, dua tim terbaik, BCL FC dan Batu Peti FC, bertarung habis-habisan demi mengangkat Piala Bergilir Genting Pulur Cup VI Tahun 2026.
Namun, bagi masyarakat Kepulauan Anambas, turnamen ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Genting Pulur Cup telah menjelma menjadi pesta rakyat yang menyatukan masyarakat, mempererat silaturahmi, sekaligus menjadi panggung lahirnya bibit-bibit pesepak bola berbakat.
Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan disambut riuh tepuk tangan. BCL FC keluar sebagai juara setelah menaklukkan Batu Peti FC dalam laga final yang berlangsung sengit dan penuh sportivitas. Kemenangan itu menjadi penutup manis bagi perjalanan turnamen yang telah memasuki penyelenggaraan tahun keenam.
Penutupan turnamen dilakukan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Kepulauan Anambas, Madison, S.Pd.,mewakili Bupati dan Wakil Bupati. Meski pimpinan daerah berhalangan hadir karena tugas kedinasan, dukungan pemerintah terhadap pembinaan olahraga di daerah tetap ditegaskan.
Dalam sambutannya, Madison mengingatkan bahwa nilai terbesar dari sebuah kompetisi bukan hanya kemenangan, melainkan karakter yang dibangun selama pertandingan berlangsung.
“Turnamen ini bukan sekadar ajang memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi wadah mempererat tali silaturahmi, membangun karakter generasi muda, serta menanamkan nilai-nilai sportivitas di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan itu seolah menggambarkan semangat yang selama ini hidup di Genting Pulur Cup. Sejak pertama kali digelar, turnamen ini terus bertahan berkat kerja sama panitia, pemerintah desa, aparat keamanan, sponsor, dan masyarakat bahu-membahu menjaga tradisi olahraga tersebut.
Kepala Desa Genting Pulur, Abdurahman, mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat yang tidak pernah surut. Baginya, keberhasilan penyelenggaraan turnamen bukan hanya diukur dari lancarnya pertandingan, tetapi juga dari kuatnya semangat gotong royong yang ditunjukkan seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap Genting Pulur Cup terus menjadi agenda tahunan mampu melahirkan pemain-pemain muda berbakat kelak dapat mengharumkan nama Kabupaten Kepulauan Anambas di tingkat lebih tinggi.
Di tengah euforia penyerahan piala dan perayaan kemenangan, tersimpan pesan penting bahwa sepak bola mampu menjadi perekat kebersamaan. Perbedaan warna jersey, rivalitas di lapangan, hingga sorak dukungan dari tribun akhirnya melebur menjadi satu semangat persaudaraan setelah pertandingan usai.
Enam tahun perjalanan Genting Pulur Cup membuktikan bahwa sebuah turnamen lokal dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Ia menjadi ruang berkumpul, tempat lahirnya mimpi para pemain muda, sekaligus simbol bahwa olahraga mampu memperkuat persatuan masyarakat di wilayah kepulauan.
Ketika lampu lapangan mulai padam dan para penonton beranjak pulang, yang tersisa bukan hanya nama BCL FC sebagai juara. Lebih dari itu, yang tertinggal adalah harapan agar semangat sportivitas, persaudaraan, dan pembinaan generasi muda terus hidup, mengiringi perjalanan Genting Pulur Cup menuju edisi-edisi berikutnya.(TM)
Editor; leh




