
Anambas, metroindonesia.co.id – Langit di atas Pasir Peti pagi itu tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah, sementara hujan turun tanpa henti membasahi halaman Kantor Bupati Kepulauan Anambas. Namun, cuaca yang kurang bersahabat itu tak mampu meredupkan satu hal yang justru terasa semakin kuat, semangat kebangsaan.
Di tengah derasnya hujan, barisan peserta upacara tetap berdiri tegak. Seragam yang basah dan genangan air mulai mengisi halaman tidak menjadi alasan untuk meninggalkan tempat. Mereka memilih bertahan hingga rangkaian Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 selesai dilaksanakan.
Di hadapan peserta, Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, memimpin jalannya upacara dengan khidmat. Momen itu menjadi gambaran sederhana namun bermakna tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia, bahkan di wilayah kepulauan terluar seperti Anambas.
Hujan yang turun seakan menjadi simbol berbagai tantangan dihadapi bangsa. Sementara keteguhan para peserta upacara mencerminkan daya tahan dan semangat persatuan yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia.
Tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia,” terasa sangat relevan di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Dunia sedang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari konflik antarnegara, krisis kemanusiaan, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan manusia dalam menghadapinya.
Dalam sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang dibacakan Raja Bayu, Pancasila disebut sebagai “bintang penuntun” yang selama ini menjaga Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai ujian zaman.
Sebagai negara yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, dan latar belakang budaya yang berbeda, Indonesia sering dipandang sebagai keajaiban sosial-politik dunia. Banyak negara menghadapi perpecahan akibat perbedaan identitas, tetapi Indonesia mampu bertahan karena memiliki fondasi bersama yang bernama Pancasila.
Wilayah berada di perbatasan utara Indonesia ini bukan sekadar gugusan pulau yang jauh dari pusat pemerintahan. Anambas adalah beranda terdepan Indonesia yang setiap hari berhadapan langsung dengan dinamika kawasan internasional. Di daerah seperti inilah nilai persatuan dan nasionalisme memiliki arti sangat penting.
Masyarakat Anambas hidup dalam keberagaman. Perbedaan suku, budaya, dan latar belakang sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, seperti Indonesia secara keseluruhan, masyarakat tetap mampu hidup berdampingan dalam semangat gotong royong dan saling menghormati.
Karena itu, ketika Raja Bayu mengajak generasi muda menjadikan Pancasila sebagai living ideology atau ideologi yang hidup, pesannya bukan sekadar seremonial tahunan.
Di era digital saat ini, generasi muda menghadapi tantangan berbeda dari generasi sebelumnya. Arus informasi yang begitu deras membawa banyak manfaat, tetapi juga berpotensi memunculkan polarisasi, intoleransi, hingga lunturnya identitas kebangsaan jika tidak disikapi dengan bijak.
Pancasila, dalam konteks tersebut, bukan hanya hafalan lima sila yang dibacakan saat upacara. Ia harus hadir dalam perilaku sehari-hari, dalam cara bermedia sosial, dalam menghargai perbedaan pendapat, serta dalam semangat bekerja sama membangun daerah.
Bagi masyarakat kepulauan seperti Anambas, implementasi nilai Pancasila juga berkaitan erat dengan pemerataan pembangunan. Ketika Raja Bayu menegaskan bahwa tidak boleh ada masyarakat tertinggal atau ditinggalkan, ia sesungguhnya mengingatkan bahwa sila kelima tentang keadilan sosial harus benar-benar diwujudkan dalam kebijakan pemerintah.
Masyarakat di pulau-pulau terluar memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan layak, layanan kesehatan memadai, akses transportasi baik, serta kesempatan ekonomi yang setara dengan daerah lain.
Pembangunan tidak hanya diukur dari gedung yang berdiri megah atau infrastruktur yang bertambah, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.
Di tengah hujan yang terus turun pagi itu, pesan tersebut terasa semakin kuat. Bahwa Pancasila bukan hanya warisan sejarah diperingati setiap 1 Juni, melainkan pedoman hidup yang harus terus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ketika upacara berakhir, pakaian peserta mungkin telah basah kuyup. Namun semangat yang mereka tunjukkan justru meninggalkan kesan mendalam: bahwa nilai-nilai Pancasila masih hidup, bahkan di sudut-sudut negeri jauh dari hiruk-pikuk ibu kota.
Dari Anambas, sebuah pesan sederhana kembali digaungkan kepada Indonesia dan dunia: persatuan adalah kekuatan, keberagaman adalah anugerah, dan Pancasila tetap menjadi fondasi menjaga keduanya tetap berdiri kokoh menghadapi perubahan zaman.(TM)
Editor: Leh




