<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title># carnaval &#8211; Metro Indonesia</title>
	<atom:link href="https://metroindo.bintan.info/tag/carnaval/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://metroindo.bintan.info</link>
	<description>Aktual dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2026 03:06:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://metroindo.bintan.info/wp-content/uploads/2020/08/cropped-cropped-logo_metro-removebg-preview-e1593052418333-32x32.png</url>
	<title># carnaval &#8211; Metro Indonesia</title>
	<link>https://metroindo.bintan.info</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menjaga Budaya Agar Tak Hilang Ditelan Zaman, Pemkab Gelar Karnaval Harmoni Budaya di Lantai Samudra</title>
		<link>https://metroindo.bintan.info/menjaga-budaya-agar-tak-hilang-ditelan-zaman-pemkab-gelar-karnaval-harmoni-budaya-di-lantai-samudra/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[metro indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2026 03:06:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Natuna]]></category>
		<category><![CDATA[# agar tak hilang ditelan zaman]]></category>
		<category><![CDATA[# budaya natuna]]></category>
		<category><![CDATA[# carnaval]]></category>
		<category><![CDATA[# pemkab Natuna lestarikan budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://metroindonesia.co.id/?p=62330</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Natuna,metroindonesia.co.id &#8211; Budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, budaya menjadi identitas harus terus dirawat agar tidak hilang dan terputus dari generasi ke generasi. Semangat itulah yang kini didorong Pemerintah Kabupaten Natuna melalui kegiatan Karnaval Budaya dalam memeriahkan HUT Natuna ke 27, Minggu 10/10/2026. Kepala Bidang Pendidikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Natuna,metroindonesia.co.id &#8211; Budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, budaya menjadi identitas harus terus dirawat agar tidak hilang dan terputus dari generasi ke generasi.</p>
<p>Semangat itulah yang kini didorong Pemerintah Kabupaten Natuna melalui kegiatan Karnaval Budaya dalam memeriahkan HUT Natuna ke 27, Minggu 10/10/2026.</p>
<p>Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Natuna, Hadisun, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan semata-mata pertunjukan kostum atau hiburan masyarakat. Lebih jauh, karnaval menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi muda.</p>
<p>Di hadapan sejumlah wartawan, Kamis, 08/10/2026 Hadisun menyampaikan pesan tegas Bupati Natuna Cen Sui Lan mengenai pentingnya menjaga kebudayaan daerah.</p>
<p>“Budaya harus dilestarikan dan tidak boleh hilang dimakan waktu,” ujar Hadisun menyampaikan pesan Bupati Natuna.</p>
<p>Menurutnya, generasi muda harus diberikan ruang untuk mengenal, mencintai sekaligus mengembangkan budaya yang telah diwariskan para pendahulu.</p>
<p>“Giat ini kita lakukan agar generasi muda, anak bangsa, tetap menghargai budaya kita,” katanya.<br />
Karnaval tersebut mengusung tema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra.”</p>
<p>Tema itu memiliki makna yang kuat bagi Natuna. Harmoni budaya menggambarkan keberagaman budaya masyarakat Natuna yang hidup berdampingan secara harmonis. Sementara “lantai samudra” menggambarkan posisi Natuna sebagai wilayah kepulauan yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dilepaskan dari laut.</p>
<p>“Natuna ini hidup di lantai samudra yang sudah ada lebih dari 100 juta tahun,” jelas Hadisun.</p>
<p>Bagi Pemkab Natuna, kekayaan alam dan budaya tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat identitas daerah, termasuk dalam upaya mendorong Natuna menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).</p>
<p>Karena itu, kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial. Pemerintah ingin budaya Natuna hadir dalam kehidupan masyarakat dan dikenal oleh generasi muda.</p>
<p>Karnaval akan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Tahun ini konsep kegiatan dibuat berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.</p>
<p>Jika tahun lalu peserta mengikuti karnaval dalam bentuk kelompok, tahun ini kategori dibuat secara perorangan. Perubahan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai agenda sekolah yang membuat sebagian pelajar sulit mengikuti kegiatan.</p>
<p>Dalam pelaksanaannya, peserta akan dinilai oleh juri lokal yang dinilai telah memiliki pengalaman.Penilaian tidak sekadar melihat kemeriahan kostum. Desain, atraksi, ide, kreativitas, serta kesesuaian dengan tema menjadi bagian penting dalam penilaian.</p>
<p>“Kita kembangkan terkait budaya Melayu,” kata Hadisun.</p>
<p>Ia menjelaskan, kekayaan budaya Natuna sangat luas. Tidak hanya berbicara mengenai pakaian tradisional, tetapi juga adat istiadat, bahasa, seni, ritual, permainan rakyat, hingga perilaku masyarakat.</p>
<p>Dalam karnaval kali ini, Pemkab Natuna secara khusus memfokuskan pengenalan budaya melalui kostum. Ada 15 jenis kebudayaan tak benda yang menjadi bagian dari kekayaan budaya, di antaranya manuskrip, tradisi lisan, ritual, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, serta olahraga tradisional.</p>
<p>Selain itu, terdapat pula warisan kebudayaan benda yang masuk dalam kategori cagar budaya.<br />
Hadisun menjelaskan, cagar budaya memiliki sejumlah bentuk, antara lain situs, struktur, bangunan dan kawasan.</p>
<p>Semua kekayaan tersebut, menurutnya, perlu terus dikenalkan agar masyarakat tidak hanya mengetahui budaya sebagai sebuah istilah, tetapi memahami bahwa budaya merupakan bagian dari identitas kehidupan masyarakat Natuna.</p>
<p>Pesan yang ingin disampaikan pemerintah daerah sebenarnya sederhana budaya jangan sampai hanya menjadi cerita dari masa lalu.Pemerintah Kabupaten Natuna ingin budaya tetap hidup di tengah masyarakat.</p>
<p>“Tujuan kegiatan ini pengembangan kebudayaan, pembinaan. Intinya pemerintah ingin budaya ini tidak hilang dimakan zaman,” tegas Hadisun.</p>
<p>Untuk menarik minat masyarakat, Pemkab Natuna juga menyiapkan hadiah bersumber dari APBD. Juara pertama akan memperoleh uang tunai Rp9 juta dan piala. Juara kedua Rp7 juta dan piala, sedangkan juara ketiga mendapatkan Rp5 juta beserta piala.</p>
<p>Sementara itu, juara harapan I memperoleh Rp3 juta dan juara harapan II Rp2 juta. Selain itu, terdapat penghargaan bagi 10 peserta terbaik masing-masing mendapatkan Rp1 juta.</p>
<p>Namun, Hadisun menegaskan bahwa hadiah bukan tujuan utama kegiatan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat, terutama generasi muda, ikut mengambil bagian dalam menjaga identitas budaya daerah.</p>
<p>Karena itu, masyarakat yang ingin mengikuti karnaval masih diberikan kesempatan untuk mendaftarkan diri melalui kontak yang telah disediakan atau datang langsung ke Museum Sri Serindit.Batas pendaftaran disebut hingga Sabtu pagi.</p>
<p>Di tengah keterbatasan anggaran dan berbagai agenda pendidikan, Pemkab Natuna tetap berupaya menghadirkan ruang bagi kebudayaan.</p>
<p>Bagi pemerintah daerah, keterbatasan bukan alasan untuk menghentikan upaya pelestarian budaya.Sebab Natuna memiliki kekayaan budaya yang sangat luas. Budaya tidak hanya tercermin dari pakaian atau kesenian, tetapi juga dari adat istiadat dan perilaku masyarakatnya dikenal santun.</p>
<p>Melalui karnaval ini, Pemkab Natuna ingin menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi.</p>
<p>Ada identitas yang juga harus dibangun. Ada warisan yang harus dijaga.Dan ada generasi muda disiapkan untuk menjadi penerusnya.</p>
<p>Di tengah bentangan laut Natuna yang luas, pemerintah daerah ingin memastikan satu hal, budaya Melayu dan kekayaan budaya Natuna tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.</p>
<p>Sebab ketika sebuah daerah kehilangan budayanya, yang hilang bukan hanya tradisi tetapi juga sebagian dari jati dirinya.(Roy)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
